Walaupun tidak ngefans berat dengan tayangan TV yang menampilkan karakter banci, tetap saja saya merasa terhibur dengan keberadaan mereka. Sewaktu KPI mengeluarkan larangan tayangan artis yang berpenapilan kewanita-wanitaan alias banci saya merasa sedikit kehilangan.
Isu ini memang sudah lama ada, mungkin sudah teramat basi, namun saya kembali merasa terusik setelah membaca ungkapan sedih Tessy di salah satu media. Tessy mengaku kehilangan mata pencahariannya sejak adanya larangan KPI.
Sejauh yang saya tahu, lakon banci sudah ada sejak saya dapat mengingat apa yang saya tonton, apakah itu pentas kampung saat 17-an, wayang orang, ketoprak, panggug Srimulat ataupun acara di TV. Terus mengapa baru sekarang dilarang? Ini yang aneh. Kalau memang (dan benar sih) tayangan ini memberikan efek negatif terhadap anak yang menonton, batasilah jam tayanganannya (setelah di atas jam tertentu) dan jenis tayangan (hanya untuk dewasa) jangan lantas diberangus begitu saja.
Sebagai seorang ibu, saya paham mengapa tayangan ini bisa memengaruhi anak. Namun karena tugas mendidik anak terutama ada pada orang tua, sewajarnya kita harus dapat mengontrol apa yang ditonton anak kita. Jika kita tidak yakin dapat melakukannya, banyak hal dapat kita lakukan. Kita dapat meniadakanTV rumah, atau mencabut antena dari pesawat TV agar gambar tidak jelas atau mengganti TV dengan radio (kembali ke jadul :P).
Lagipula menurut pendapat saya dengan meniadakan sesuatu yang kita anggap buruk, atau menghapus hal yang tidak sejalan dengan nilai-nilai yang kita anut tidak mengajarkan anak-anak kita untuk menerima dan menghargai perbedaan. Mungkin ini malah membuat kita menghasilkan generasi yang radikal, yang menganggap dirinya benar dan sesuatu yang lain dari mereka salah. Selain itu banci dapat mengajarkan kepada kita bahwa hidup tidaklah selalu hitam putih, ada berbagai warna di antaranya yang akan memperkaya hidup itu sendiri.
Bingung! Itu yang kerap terjadi bila harus menuliskan deskripsi diri. Bukan karena tidak cukup mengenal diri sendiri, tapi seringkali karena tempatnya terlalu terbatas untuk mengungkapkan diri (narsiskah? hmmm.) Blog ini dibuat sebagai salah satu cara mengekspresikan diri, semoga memiliki manfaat paling tidak untuk diri sendiri, syukur-syukur juga untuk orang lain (semoga).
alaksir
February 6th, 2009 at 11:26 am
Jangan-jangan KPI sudah jadi Komisi Pelarangan Indonesia ya Mom… he he.
And great title by the way!