Pemilu, hmm milih apa ya…..

7 Feb 2009 In: Uncategorized

Selain alergi sama bersih-bersih (pekerjaan rumah tangga yang menurut saya paling berat), ada satu hal lain yang membuat saya alergi, yaitu politik. Pak Harto sudah berhasil membuat saya bersikap apatis.

Setiap kali ada yang berbicara masalah politik, saya hanya akan berusaha mendengarkan dengan baik tanpa ingin mencerna terlebih memikirkannya lebih lanjut. Menjadi golput merupakan pilihan.

Banyak yang bilang sayang kalau tidak memilih, karena kini satu suara pun berarti, tidak seperti zaman dulu yang hanya punya tiga pilihan seperti lampu lalu-lintas merah, kuning atau hijau. Kini pilihan kita beragam warna.

Setelah mempertimbangkan atau mungkin karena dorongan suami, akhirnya saya memutuskan akan mengikuti Pemilu nanti, dengan catatan kalau tidak hujan, tidak terlalu panas dan tidak mengantri :). Karena banyaknya partai yang ada, dan apatisnya saya, saya memutuskan akan menentukan pilihan di tempat, dengan kriteria pilihan:

  • partai dengan gambar paling menarik, atau
  • dengan warna yang paling mendekati warna kesukaan saya atau warna tren tahun ini, atau
  • dengan nama calon yang terbaca indah

Namun untuk presiden saya akan sedikit berpikir, karena saya takut nanti kalau salah pilih saya bertanggung jawab lagi atas terpilihnya presiden yang suka menghilangkan lawan politik, atau yang biasa jadi ndoro, atau yang akan melarang tank top. Ada yang bisa bantu saya memilih?

Late Starter

6 Feb 2009 In: Uncategorized

Setelah sekian lama terkungkung dalam kegiatan yang mengasyikan lainnya, akhirnya saya kembali ke dunia nyata yang maya. Sebagai salah seorang yang terlambat mengadopsi kemajuan teknologi (kecuali untuk urusan cari-mencari duit), saya mencoba untuk mengejar ketertinggalan tersebut. Dalam waktu sepekan ini saya membuat blog, kembali mengaktifkan facebook (setelah permintaan banyak orang yang sebal melihat kegagapan saya) dan twitter adalah sasaran saya berikutnya.

Menjadi Penerjemah

6 Feb 2009 In: Uncategorized

Setelah tiga tahun berada di bawah bayang-bayang suami tersayang, akhirnya beberapa hari yang lalu saya memiliki klien sendiri untuk pertamakalinya.

Teman-teman terdekat saya mungkin bingung mengapa saya bisa menjadi penerjemah, padahal kemampuan bahasa Inggris saya tidak lebih bagus dari mereka. Kelebihan saya dari yang lainnya adalah memiliki suami dengan kemampuan linguistik di atas rata-rata dan daftar klien yang panjang.

Meskipun saya menikmati bekerja untuk suami, karena dengan hasil yang sama (semua pendapatan untuk saya) saya berbagi tanggung jawab dengannya. Namun atas dorongan atau lebih tepatnya paksaan suami tercinta, akhirnya tahun ini saya mulai mencari klien sendiri.

Berikut susunan cara menjadi penerjemah paruh waktu (ala saya):

  • Membuat CV dan portofolio hasil terjemahan (kalau bisa menyertakan referensi)
  • Mencari daftar agensi penerjemahan dan lokalisasi
  • Mengirimkan CV dan portofolio ke semua agensi dan perusahaan lokalisasi
  • Mendaftarkan diri ke Proz.com dan TranslatorsCafe.com untuk menempatkan CV dan portofolio
  • Bergabung ke milis-milis penerjemah untuk menambah ilmu (ini yang belum saya lakukan)
  • Berdo’a
  • Semoga informasi di atas dapat membantu mereka yang berminat menjadi penerjemah paruh waktu seperti saya. Selamat mencoba!

    Benci Banci

    5 Feb 2009 In: Uncategorized

    Walaupun tidak ngefans berat dengan tayangan TV yang menampilkan karakter banci, tetap saja saya merasa terhibur dengan keberadaan mereka. Sewaktu KPI mengeluarkan larangan tayangan artis yang berpenapilan kewanita-wanitaan alias banci saya merasa sedikit kehilangan.

    Isu ini memang sudah lama ada, mungkin sudah teramat basi, namun saya kembali merasa terusik setelah membaca ungkapan sedih Tessy di salah satu media. Tessy mengaku kehilangan mata pencahariannya sejak adanya larangan KPI.

    Sejauh yang saya tahu, lakon banci sudah ada sejak saya dapat mengingat apa yang saya tonton, apakah itu pentas kampung saat 17-an, wayang orang, ketoprak, panggug Srimulat ataupun acara di TV. Terus mengapa baru sekarang dilarang? Ini yang aneh. Kalau memang (dan benar sih) tayangan ini memberikan efek negatif terhadap anak yang menonton, batasilah jam tayanganannya (setelah di atas jam tertentu) dan jenis tayangan (hanya untuk dewasa) jangan lantas diberangus begitu saja.

    Sebagai seorang ibu, saya paham mengapa tayangan ini bisa memengaruhi anak. Namun karena tugas mendidik anak terutama ada pada orang tua, sewajarnya kita harus dapat mengontrol apa yang ditonton anak kita. Jika kita tidak yakin dapat melakukannya, banyak hal dapat kita lakukan. Kita dapat meniadakanTV rumah, atau mencabut antena dari pesawat TV agar gambar tidak jelas atau mengganti TV dengan radio (kembali ke jadul :P).

    Lagipula menurut pendapat saya dengan meniadakan sesuatu yang kita anggap buruk, atau menghapus hal yang tidak sejalan dengan nilai-nilai yang kita anut tidak mengajarkan anak-anak kita untuk menerima dan menghargai perbedaan. Mungkin ini malah membuat kita menghasilkan generasi yang radikal, yang menganggap dirinya benar dan sesuatu yang lain dari mereka salah. Selain itu banci dapat mengajarkan kepada kita bahwa hidup tidaklah selalu hitam putih, ada berbagai warna di antaranya yang akan memperkaya hidup itu sendiri.

    Roseola

    3 Feb 2009 In: Uncategorized

    Tisyara ketika terkena Roseola

    Terdengar indah, tapi kalau ia mendatangi kita aduhhhh sedihnya. Ini yang terjadi kepada kami dua minggu yang lalu.

    Sepulang berlibur di Puncak selama tiga hari dua malam dalam rangka merayakan ulang tahun Popo, Tisyara terserang demam. Awalnya kami pikir mungkin karena kelelahan. Namun setelah dua hari tak kunjung membaik, kami memutuskan untuk mendatangi dokter spesialis anak di BWCH (karena waktu itu hari Minggu, dokter langganan Tisyara tidak praktik jadi ke dokter yang ada saja).  Setelah dicek darah, dokter mengatakan Tisyara terkena suatu virus dan kami pun diberi beberapa macam obat (obat penurun panas, peningkat kekebalan tubuh dan antibiotik). Setelah panas mereda di hari ketiga (Minggu) sore, pada hari Senin munculah bintik-bintik seperti biang keringat di bagian muka dan badan, yang keesokan harinya bertambah di sekujur tangan dan kaki. Kami sempat berpikir bahwa Tisyara terserang campak, namun setelah cari-cari tahu barulah kami mafhum bahwa Tisyara terkena Roseola. Gejalanya mirip dengan campak, yaitu demam tinggi selama beberapa hari, diare ringan, dan setelah panas mereda akan timbul ruam. Pada Roseola ruamnya seperti biang keringat yang akan hilang dalam hitungan jam atau hari.

    Alhamdulillah sekarang Tisyara sudah sehat dan bisa kembali tertawa riang. Selamat tinggal Roseola….

    Tentang Mommy

    Bingung! Itu yang kerap terjadi bila harus menuliskan deskripsi diri. Bukan karena tidak cukup mengenal diri sendiri, tapi seringkali karena tempatnya terlalu terbatas untuk mengungkapkan diri (narsiskah? hmmm.) Blog ini dibuat sebagai salah satu cara mengekspresikan diri, semoga memiliki manfaat paling tidak untuk diri sendiri, syukur-syukur juga untuk orang lain (semoga).


    My Family Photos